Hasil Karya Anak Bangsa: Pengubah Suara Jadi Teks Segera Dijual, akankah di bajak?

Monday, May 17, 2010
By nur

Kabar dari KOMPAS.com

Sejarah panjang tradisi tulis-menulis memasuki babak baru. Bukan tangan, tapi cukup mulut yang akan “menulis.” Itu berkat lompatan teknologi pengubah suara menjadi teks berbahasa Indonesia hasil rekayasa berbasis operasi komputer Linux.

Peranti hasil rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT bekerja sama dengan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) itu segera dipasarkan.

”Pihak BPPT memiliki royalti 20 persen dari penjualan perangkat teknologi itu,” kata Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (14/5/2010).

Marzan mengatakan, lisensi memproduksi dan menjual diberikan kepada PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) untuk jangka waktu lima tahun. Bentuk kerja sama ini diharapkan berkembang untuk hasil-hasil riset BPPT lainnya.

Presiden Direktur PT Inti Irfan Setiaputra mengatakan, teknologi perisalah menggantikan peran notulis dalam suatu rapat atau sidang. Kecepatan penulisan suara dapat diperoleh seketika dengan tingkat keakurasian 85 persen, bisa diupayakan menjadi 100 persen melalui proses perbaikan dari hasil rekaman yang tersedia.

”Berbagai institusi pemerintah jelas sangat membutuhkan teknologi perisalah rapat ini,” kata Irfan.

Penjualan perisalah rapat tersebut dibagi menjadi sistem tunggal dengan harga Rp 200 juta per unit, sedangkan sistem multi seharga Rp 500 juta per unit. Perbedaannya terletak pada sistem multi yang bisa untuk agenda sidang yang tidak terbatas jumlahnya.

”PT Inti sudah membayarkan di muka Rp 2 miliar kepada BPPT untuk hak eksklusif dan lisensi produksi dan penjualan perisalah ini,” kata Irfan.

Rekayasa teknologi informasi ini dirintis Oskar Riandi dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT. Menurut Oskar, pengambilan model ucapan sudah mencapai 190.000 kata dari hampir semua dialek suku bangsa di Indonesia.

Bagi saya yang awam teknologi, jelas terkagum – kagum dengan hal ini, apalagi ini sudah “menyesuaikan” dengan dialek dan “lidah” orang Indonesia.

Sebenarnya di luar negeri ini sudah cukup familiar, tetapi di Indonesia, hal ini adalah lompatan luar biasa, apalagi sudah mengesuaikan dengan “model’ bibir orang Indonesia.

Hanya saja, harganya yang “kelewat” mahal membuat kecenderungan untuk dibajak jauh lebih tinggi, lihat saja software penerjemah teks yang populer lebih dulu, TransTool. Walaupun tingkat proteksinya relatif baik, ada saja yang mampu untuk “menjebol” dan membuat serial atau crack-nya.

Akankah ini akan bernasib sama dengan Transtool?

Kuatirnya lagi, yang memegang hak penjualan adalah PT INTI, sebuah BUMN, sudah menjadi rahasia umum, sebuah BUMN tidak akan bisa menjual produk secara maksimal, belum lagi layanan purna jual, dijamin akan kedodoran. Padahal dua hal ini menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah penjualan produk. Kalau toh laku, produk ini paling – paling hanya akan terjual di lingkungan instansi pemerintah sendiri karena ada unsur “lain-lain”. Apalagi software ini berbasiskan Linux, pasti akan sulit sekali masuk ke pasaran

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Pencarian